Herbal Cure Testimonial

Member of Herbal Clinic Ning Harmanto

“TENGKLENG” Solo

”TENGKLENG” SOLO, ENAK DI LIDAH MASALAH DI KEPALA.

Bp.Vr.Murdowo, Jagalan, Solo

Kota Solo memang terkenal gudangnya makanan enak. Mulai dari masakan  ”tengkleng”  jerohan  kambing, bagian kepala kambing, kikil kambing bahkan otak kambing. Apalagi kalau ”tengleng” belinya di pasar Klewer, wah kalau sudah makan lupa segalanya. Orang Solo mana yang tidak  pernah mencoba.  Atau masakan Sop Buntut dan Soto Uritan (bakal telur dan bagian wadah bakal telur ayam) serta masih banyak lagi makanan lain yang serba nikmat di lidah namun bermasalah di tubuh. Sama halnya kalau kita ke Makasar, belum syah rasanya kalau belum menikmati coto  Makasar atau Sop Konro.

Sebagai orang asli Solo, sejak kecil sayapun terbiasa menikmati makanan yang enaknya susah dilupa namun ternyata  mengandung kolesterol tinggi. Ketika masih remaja tidak pernah terasa pusing dan kesemutan ataupun nyeri di sendi-sendi tubuh bila  menikmati ”tengkleng”. Ya, karena masih dalam masa pertumbuhan dan banyak gerak. Lemak di tubuh akan terbuang dan kadar purin dalam darah juga bisa ternetralisir oleh gerakan-gerakan yang dinamis. Namun, kini semakin tambah umur lemak di dalam tubuh makin bertumpuk dan gerakan makin berkurang karena harus banyak bekerja duduk di belakang meja. Akhirnya, tekanan darah, kolesterol, asam urat, gula darah dan lainnya meningkat tinggi. Yang amat menyiksa adalah pusing kepala dan tegang di leher tak pernah berhenti menyiksa.

”Aduh ma, kepalaku pusing sekali nih, kakiku juga bengkak dan terasa nyut-nyutan”.

”Ya, dinikmati saja  sakitnya.”

”Lho mama ini bagaimana sih, aku ini sakit kok malah disuruh menikmati sakitnya”

”Habisnya papa kalau dibilangin susah. Sudah tahu sekarang makin tua ya makannya hati-hati, jangan sembarangan”.

”Iya, papa tahu. Mama pasti mau bilang juga , jangan makan sate, soto uritan, jangan makan tengkleng lagi.  Hayo, mama mau bilang  begitu ’kan?

”Memang begitu seharusnya kalau tidak mau sakit”.

Yah, apa boleh buat setiap kali bersama teman-teman kantor susah menolak makan siang bersama. Semua maunya makan enak. Maka tidak heran bila penyakit saya meski sudah minum obat dokter, sebentar sembuh lalu kambuh lagi. Di Solo ada dokter yang sangat baik dan tidak pernah mau dibayar. Setiap kali saya dimarahi kalau sakit, karena sakitnya disebabkan kesalahan sendiri yakni  susah pantang makanan enak. 

Untunglah saya punya adik sepupu namanya Andrea, yang ternyata menantunya Bu Ning. Saya ditawari minum teh ”MASHIWA” yang terbuat dari teh hijau dan aneka herbal yang menyehatkan. Rasa teh Mashiwa menurut saya seperti rasa cincau hijau.

Saya tidak pernah tahu kalau teh itu bisa menurunkan kolesterol, dan gula darah. Dengan telaten saya coba minum pagi dan sore hari tanpa gula. Selain itu saya juga melakukan pijat refleksi seminggu sekali. Hari demi hari sakit kepala dan tegang di leher berangsur-angsur hilang dan sembuh. Juga tekanan darah  yang semula 180. jadi 130/90. Kalau makan saya kurang terkontrol, memang bisa naik lagi.  Ketika bu ning berkunjung ke rumah saya untuk bersilaturahmi saya diberi masukan utk melakukan therapi jus buah agar kesehatan semakin terjaga. Ya, saya akan memperhatikan pola makan saya. Trima kasih Tuhan, trima kasih bu Ning atas sarannya.

December 3, 2007 - Posted by | kolesterol

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: