Herbal Cure Testimonial

Member of Herbal Clinic Ning Harmanto

Tuhan, Saya Belum Mau Mati

Ya Tuhan, saya belum mau mati”, setiap kali berdoa di akhir permohonan, saya selalu memohon kemurahan Tuhan agar jangan mengambil nyawa saya saat anak-anak masih kecil. Saya menyadari bahwa umur manusia di tangan Tuhan. Bila sudah dikehendaki kita harus menghadap Sang Ilahi, tak akan ada yang bisa menghalangi. 
Anak-anak saya masih kecil-kecil umur 5 dan 7 tahun. Siapa yang akan merawat mereka kalau saya mati?

Perempuan mana yang tidak shock dan panik bila menghadapi kenyataan, salah satu daya tariknya harus dibuang? Kalau yang dibuang atau dipotong hanya rambut, meski dibuang habis masih bisa diharapkan segera tumbuh lagi. Namun, bila yang harus dibuang itu ”payudara”? . 

Semula saya begitu panik saat dokter bedah di Rumah Sakit St.Carolus mengatakan:

”Saya hanya bisa menolong ibu dengan pisau bedah ini. Untuk amannya, satu payudara ibu harus diangkat. Tidak ada cara lain untuk mengatasi penyakit ibu.Kalau ibu terlambat mengambil keputusan, saya tidak berani menanggung akibatnya. Silahkan dibicarakan dengan suami ibu.”

Peristiwa itu terjadi bulan Agustus tahun 2003. Semula payudara kiri saya terasa nyeri dan sakit saat mau datang bulan. Bulan demi bulan saya merasa ada sesuatu yang tidak beres karena frekwensi rasa sakitnya makin sering. Meski sudah selesai menstruasi masih tetap sakit juga. Saya jadi semakin takut dan khawatir karena tiba-tiba teraba ada tiga benjolan di bagian bawah puting susu.Dengan diantar suami, saya memeriksakan diri ke RS St.Carolus. Semula dokter menduga ada bisul di payudara karena benjolannya memang meradang seperti bisul. Lalu saya diberi resep antibiotik dan obat pengurang rasa sakit seminggu. Meski dengan  tekun saya minum obatnya, rasa sakit itu masih terus menyiksa dan makin menjadi.

Akhirnya saya kembali periksa ke RS dirujuk ke ahli bedah. Dokter curiga kemungkinan kanker. Untuk memastikannya dilakukan pemeriksaan mammografi. Sakitnya luar biasa karena payudara ditekan dengan alat dari semua sudut. Hasil mammografi ternyata benar dugaan dokter, ada sel-sel kanker bersarang di payudara kiri. Suami membujuk saya agar menyetujui saran dokter untuk mengangkat saja payudara yang ditumbuhi sel kanker. Saya diam saja tidak bisa berkata apa-apa dan dengan tangan gemetar saya menandatangani surat persetujuan operasi. Suami saya juga tak bisa berbuat apa-apa selain memberikan persetujuan.  Lalu dia mengurus administrasinya untuk pelaksanaan operasi, karena harus secepat mungkin dilakukan bila tidak ingin terlambat.

Sambil menunggu suami mengurus semuanya, saya jadi termenung-menung sendiri dan teringat tetangga saya yang sakitnya sama. Ibu Dini sebut saja begitu, menderita kanker payudara yang semula hanya sebesar kacang hijau lalu dioperasi. Karena dinyatakan jenis tumornya jinak tidak dilakukan penyinaran dan kemotherapi. Setahun kemudian entah bagaimana bisa terjadi ternyata tumbuh lagi lalu dilakukan operasi ulang dan  disertai dengan tindakan kemotherapi. Meski demikian masalahnya belum selesai juga karena tumor yang semula diperiksa jinak ternyata bisa berubah jadi ganas. Hingga enam kali operasi terus berulang dilakukan hasilnya kanker tetap merajalela menjalar di bagian tubuh yang lain. Mengetahui hal itu saya tidak mau mengalami seperti ibu Dini. Mungkin sudah habis satu rumah untuk biaya operasi di Rumah Sakit namun penyakit tetap saja tak mau pergi. Saya benar-benar panik dan takut.

Saat suami sudah selesai mengurus kelengkapan administrasinya saya tiba-tiba minta dibatalkan saja rencana operasinya. Suami saya tak kuasa membujuk keinginan saya meninggalkan Rumah Sakit. ”Ya sudahlah, kalau kamu tidak mau operasi kita coba upaya lain”. Hari itu juga saya dan suami bertandang ke rumah kenalan yang sudah seperti saudara untuk meminta sarannya. ”Cobalah cari ramuan paket kanker Mahkotadewa Ny. Ning Harmanto di kantor berita Buana Minggu,  Jl. Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dosis yang disarankan  dimulai sedikit demi sedikit agar tubuh menyesuaikan diri. Racikannya terdiri dari empat macam herbal dan kapsulnya satu macam. Jadi ternyata bukan hanya Mahkotadewa saja namun masih ditambah dengan temu putih, temu mangga dan sambiloto serta umbi daun dewa. Baru tiga kali minum ramuan rasa sakit yang amat menyiksa itu mulai bisa mereda. Sejak itu saya yakin banget bahwa inilah jalan Tuhan untuk kesembuhan penyakit saya. Meski vonis dokter menyatakan saya menderita kanker ganas namun saya tidak peduli. Setiap hari tak putus-putusnya saya memohon kemurahan Tuhan untuk memberi kesempatan pada saya bisa membesarkan anak-anak yang begitu saya cintai.

Syukur pada Tuhan suami dan teman-teman saya memberi dukungan moral dengan doa dan mengunjungi serta menghibur saya. Suatu kali teman saya seorang dokter gigi yang pernah menderita penyakit yang sama  dan sudah sembuh menggunakan paket kanker memberi saran agar dosis ramuannya ditingkatkan supaya cepat sembuh. Dari informasi artikel berbagai surat kabar yang saya baca, pembuat ramuan paket kanker itu ibu Ning Harmanto yang punya klinik herbal di Jl.Soka BB 16, Nyiur Melambai II, Jakarta Utara.

Dengan susah payah akhirnya saya bisa membuat janji bertemu bu Ning Harmanto. Setelah diperiksa bu Ning, saya dengan tak sabar langsung meminta kepastian apakah penyakit saya bisa sembuh. Bu Ning bilang, ”kita serahkan semuanya pada Tuhan. Bila Tuhan ijinkan semoga ramuan kami bisa membantu ibu. Jadi kuncinya ”percaya pada Tuhan yang empunya hidup”.

Selain minum ramuan saya juga diberi minyak made untuk obat luar. Lalu diianjurkan untuk banyak mengkonaumai sayur dan buah lebih banyak dari biasanya. Kemudian diminta berpantang makanan daging sapi, kambing dan ayam negeri. Sayur taoge, sawi putih, kangkung dan cabe tidak boleh dikonsumsi. Juga makanan yang dibakar, mengandung vetsin dan diawetkan. Selain itu tidak boleh makan buah durian, nangka, lengkeng, duku dan anggur. Minuman yang dingin, bersoda dan mengandung alkohol juga harus dihindari. Udang, Cumi, kerang, kepiting tidak boleh di makan juga.

Apa boleh buat meski nampaknya berat saya tetap patuh mentaatinya. Yang paling berat tidak boleh makan cabe karena bisa menghambat oksigen masuk ke dalam tubuh kita.

Sayuran yang disankan kubis, leunca, lobak, buncis,wortel, pare, brokoli, sambung nyawa dan bawang putih. Selain itu buah yang disarankan apel malang, jeruk, pepaya, tomat, jambu biji merah, melon dan semangka. Demi kesembuhan penyakit saya, setiap hari saya mengkonsumsi wortel dan apel malang sehari satu kilogram. Menu makanan saya yang serba rebus.

Sebulan setelah minum ramuan paket kanker, benjolan payudara saya yang sebesar telur bebek pecah. Sakitnya bukan alang kepalang, namun saya berpikir positif saja bahwa penyakit saya keluar dan sedang dalam proses kesembuhan. Dari benjolan yang pecah mengalir nanah dan cairan yang berbau. Saya tetap tabah dan justru berupaya mengeluarkan semua nanah hingga mengering. Melalui telpon saya berkonsultasi dan disarankan mengompres bagian yang luka dengan minyak Made. Selanjutnya atas inisiatif saya sendiri ramuan paket yang harusnya dikonsumsi untuk sebulan saya habiskan dalam waktu seminggu. Reaksinya saya memang agak lemas dan mengantuk.

Agar  suasana doa lebih khusuk sayapun tiap jam 24.00 WIB selalu bangun untuk berdoa rosario karena saya katholik. Tidak mudah untuk bisa secara rutin doa tengah malam karena gangguannya banyak. Namun demikian, hati jadi teduh dan tenang serta merasa jadi sangat dekat dengan Tuhan.

Selama menjalani pengobatan, hati saya juga sebenarnya agak was was bila mendengar informasi betapa bahayanya kanker payudara. Penyakit yang mengerikan ini banyak merenggut nyawa kaum wanita. Secara medis tidak ada cara lain untuk bisa mematikan sel kanker selain operasi. Namun sudah banyak bukti yang menunjukkan meski sudah operasi belum bisa menjadi jaminan penyakit kankernya bisa  hilang lenyap.Untuk mengusir kegalauan saya tetap melakukan aktifitas rumah tangga memasak, mengurus rumah dan antar jemput anak. Setelah benjolan yang pertama pecah rasa nyeri masih hilang timbul karena masih ada dua benjolan. Saya terus mensugesti diri untuk perang  memenangkan pertarungan melawan penyakit jahanam ini. Sebulan kemudian benjolan yang kedua pecah keluar nanah dan cairan yang menghitam. Saya melakukan hal yang sama seperti peristiwa pecahnya benjolan yang pertama dulu. Akhirnya persis sebulan sesudahnya benjolan yang ketiga pecah juga. Dengan telaten saya merawat sendiri luka di payudara yang sesungguhnya nampak mengerikan. Saya terus berjuang melawan sakit nyeri yang mendera. Saya tidak mau menyerah kalah. Saya harus hidup demi anak dan suami yang amat mencintai saya. Saya tidak boleh mati. Tuhan, saya belum mau mati.

Dengan tekun saya terus merawat luka dengan minyak made dan tetap minum ramuan serta konsumsi buah apel dan wortel.
Hari demi hari tak putus-putusnya saya berdoa memohon kemurahan Tuhan untuk kesembuhan penyakit saya. Syukur pada Tuhan ternyata setelah pecah yang ketiga, bengkak di payudara terus mengempis, luka juga terus mengering. Sungguh ajaib, luka yang semula mengerikan kini menutup seperti ada yang mengelem. Enam bulan setelah mengkonsumsi ramuan, saya  sembuh total. Kepastian sembuh saya peroleh ketika dari hasil mammografi menujukkan tak  lagi ditemukan sel kanker. Puji syukur pada Tuhan saya benar-benar bisa bebas melawan sel kanker yang mematikan. Terima kasih Tuhan.
Jakarta, 22 Desember 2005.Hanna Sudariyati.
Bekasi. Ditulis  Ny. Ning Harmanto.

November 2, 2007 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: