Herbal Cure Testimonial

Member of Herbal Clinic Ning Harmanto

Titik Balik Sakit Saya

[Bertempur Melawan Tumor di OTAK]
BELAJAR MERAIH KESEMBUHAN DARI PAK ISMAIL SALEH.
TUMOR OTAK LAWAN  HUMOR PAK ISMAIL.
“Umur saya hampir delapan puluh, kaki  saya nyaris lumpuh  namun karena keajaiban Tuhan, saya sembuh. Saya sekarang masih bisa nyopir. Saya masih bisa terus menulis dan menulis saat subuh.”
Ya, sungguh luar biasa pengalaman bapak Ismail Saleh  (79th) mantan menteri kehakiman di era presiden  Suharto.
Pengalaman yang menegangkan dan mendebarkan.  Kisah kesembuhan Pak Ismail dari Tumor otak yang sangat sulit diatasi secara medis namun kenyataannya bila Tuhan berkenan akhirnya  ramuan herbal Mahkotadewa mampu membantu kesembuhannya. Bagi pak Ismail Saleh, mengemudikan mobil merupakan latihan daya reaksi dan memulihkan rasa percaya diri.
Bukan hal yang mudah bila harus menjalani hidup diperlakukan seperti bayi. Tidak bisa kemana-mana, Harus pakai pempers, mandi sendiri tak mampu dilakoni. Ganti baju dan celana juga tak bisa dijalani. Selain itu,  makan dan minum harus disuapi dan dilayani. Ungtunglah sang istri selalu siap mendampingi.

Berbincang dengan pak Ismail Saleh amat menyenangkan dan tidak membosankan. Kita bisa belajar banyak hal dan mencontoh gaya hidupnya yang SERSAN serius tapi santai. Setiap kali bila kondisi badannya sehat, menulis selalu disempatkan pada saat selesai sholat subuh hingga jam 7.00 atau 8.00 pagi. Selain itu seperti kita ketahui Pak Ismail Saleh selalu konsisten dengan hobbynya berkebun terutama tanaman bonsai yang memerlukan taste dan feeling seni yang tinggi. Belum lagi dengan hobbynya memelihara ayam bekisar.

Saya amat bersyukur pada Tuhan karena sebagian besar pasien yang berhasil sembuh berkenan terus menginformasikan kesembuhannya kepada keluarga, teman dan handai taulan. Lebih menggembirakan lagi hampiir semuanya berkenan didokumentasikan kisah kesembuhannya ke dalam VCD atau DVD. Dengan pendokumentasian  kisah kesembuhan ternyata meningkatkan kepercayaan dan keyakinan  pasien lainnya untuk mempunyai semangat sembuh. Saya juga menginformasikan ramuan yang seharusnya diminum oleh masing-masing pasien dan juga mengutamakan doa untuk memperoleh kesembuhan.

Demikian pula halnya ketika saya mohon ijin ibu Ismail Saleh untuk melakukan wawancara dan mengabadikan kisah kesembuhan pak Ismail Saleh, dengan senang hati beliau  memberikan persetujuannya. Kebetulan pula wartawan majalah Trubus juga sangat tertarik untuk ikut melakukkan wawancara. Terima kasih pula atas hadiah ”BATU  ONYX YANG INDAH”. Ya ketika selesai wawancara saya memperoleh banyak hadiah dari ibu dan bapak Ismail Saleh. Selain hiasan batu, juga ada tanaman, dan buku karya pak Ismail.

Tepat tanggal 23 Juni 2005 jam 8.30, saya dan suami serta Team Mahkotadewa berkunjung ke rumahnya yang asri di bilangan Kemang, Jakarta  yang biasanya terasa panas membara, namun begitu memasuki pekarangan rumah pak Ismail begitu sejuk dan nyaman. Bersih dan indah dipandang mata, kicau burungpun terdengar merdu.  Terlebih ketika mulai berbincang-bincang dengan pak Ismail,  suasana penuh keakraban dan juga canda dan tawa. Ternyata pak Ismail memiliki sense of humor yang tinggi.

” Saya ini tergabung dalam organisasi POPSI”, katanya serius.

”Apa itu POPSI, pak?”

”POPSI itu singkatan dari Persatuan orang Pendek Seluruh Indonesia”, jawabnya kalem.

”Tapi sesungguhnya kita orang-orang pendek lebih senang mengatakan bahwa kami sama-sama tinggi”.

Ya hampir selama dua jam penuh kami mengadakan wawancara  namun  terasa sebentar saja karena setiap kali ada canda ria yang sangat menyenangkan. Setelah wawancara kami diajak melihat kebunnya di samping rumah yang asri dan indah. Berikut ini Pak Ismail Saleh berkenan menulis sendiri kisah kesembuhannya dan karena ramuan Mahkotadewa yang dikonsumsinya yang tahu ibu Ismail maka beliau berpesan untuk menggabungkan tulisannya dengan catatan ibu Ismail. Semoga bisa menjadi contoh dan masukan bagi masyarakat yang mengalami  penderitaan yang sama namun ingin terus berupaya sembuh dan mempunyai semangat tinggi untuk tetap hidup.    

TITIK BALIK SAKIT SAYA (Bertempur Melawan Tumor di OTAK)
7 Maret 2005 saya diperiksa dengan alat Magnetik Resonance Imaging (MRI) di sebuah rumah sakit di Jakarta Barat, pukul 15.00. Alat tersebut dipakai untuk menangkap gambar tumor baik posisi maupun besarnya di otak saya. Apakah Tumor di otak masih tetap besar dan, tersebar atau sudah mengecil dan malahan berkurang?. Pada waktu saya dimasukkan dalam Terowongan Alat MRI, hanya sikap pasrah saja yang bisa saya lakukan. Sebab pemeriksaan alat MRI ini sudah berkali-kali, sejak pertama kali berturut-turut tanggal 12, 14, 19 April 2004. Kemudian berlanjut di sebuah rumah sakit di Tokyo – tanggal 1 Mei 2004.

Selain menggunakan therapi medis konvensional saya disarankan teman untuk menggunakan ramuan Mahkotadewanya bu Ning Harmanto. Pada mulanya tidak percaya namun karena membaca bukunya bu Ning saya merasa  tak ada salahnya  mencoba . Menurut  dokter posisi tumor saya tidak mungkin dioperasi dan beresiko tinggi bila operasi karena umur saya yang sudah hampir delapan puluh tahun. Selain itu saya juga merasa yakin untuk bisa sembuh. Yang selalu berkonsultasi untuk menggunakan ramuan yang mana adalah isteri saya. Menurut ceritera isteri,  saya  sempat mengalami gangguan pola pikir, tidak nyambung kalau diajak ngomong. Awal mulanya saya hanya mengkonsumsi ramuan yang ringan dulu yakni Instant MADE 3 dan Madu Mahkotadewanya bu Ning. Menurut informasi ramuan ini dosisnya ringan  dan fungsinnya sebagai pencegahan kanker dan sebagai suplemen serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Dengan menggabungkan therapi medis konvensional dan obat tradisional kondisi badan saya berangsur-angsur membaik. Namun untuk menjaga perasaan dokter yang merawat,  saya  tidak berani berterus terang kalau menggunakan juga obat alternatif. Untuk memastikan proseskesembuhan,  saya terus selalu rutin cek darah dan cek kesehatan secara keseluruhan.

Tanggal 27 Juli 2004, saya dianjurkan minum ramuan rebusan ditambah Instant Made 3 dan Madu Mahkotadewa. .Selanjutnya saya juga melakukkan  MRI berturut-turut tanggal 28 Agustus 2004, 28 September 2004, 29 Oktober 2004. Dilanjutkan lagi di rumah sakit di Singapura 18 November 2004 dikatakan bahwa saya mempunyai masalah “disorientasi. confusion, headache and inability to stand or sit” Kembali lagi MRI di Jakarta tanggal 5 Januari 2005 dan 7 Maret 2005. Pemeriksaan melalui alat MRI dengan demikian sudah mencapai ke sepuluh kalinya. Pemeriksaan terakhir inilah diluar dugaan saya, karena hasilnya menunjukkan suatu titik balik (turning point) dalam arti “has turned out fine”, yaitu kondisi saya semakin balk. Konklusi yang dibuat oleh Dokter Spesialis Radiologi menyatakan tampak penurunan Choline sebesar 232 dibandingkan dengan hasil 7 Januari 2005. Penurunan Choline tersebut menurut pendapat saya cukup signifikan.

Sudah cukup lama saya dirawat karena Tumor tersebut, sejak pertama kali tanggal 10 April 2004 di Rumah Sakit – Jakarta.

Hasil MRI tanggal 12 April 2004 menunjukkan adanya pembengkakan otak (lesi) yang menjurus kearah tumor otak dari jenis lymphoma malignant. Tanggal 15 April 2004 pada malam hari terdapat kendala masalah keseimbangan badan, focus komunikasi dan pita suara mulai terganggu. Perawatan kemudian dilanjutkan dengan obat jalan di rumah dari tanggal 16 April s.d 23 April 2004 serta mendapat suntikan 3 x sehari ditambah obat-obatan. Tanggal 16 April 2004 terpeleset jatuh di kamar mandi, karena keseimbangan badan terganggu, juga sering jatuh dari tempat tidur.

Tanggal 20 April 2004, anak saya dan beberapa dipanggil Bapak H.M. Soeharto untuk melaporkan tentang kondisi sakit saya. Salah satu Dokter menyarankan agar saya diperiksa di Tokyo Jepang.
Bapak H .M. Soeharto menyetujui dan agar dipersiapkan pemberangkatannya. Saya dirawat di rumah sakit tersebut sejak tanggal 24 April 2004. Di sana saya menjalani “Pet Scanning” tanggal 27 April 2004 untuk mengetahui kondisi tumor di otak. Yang menyertai pemberangkatan saya ke Jepang adalah istri, dua anak Lusi dan Dudit serta Vivien menantu perempuan saya dan Dokter. Saya tidak dapat berjalan, duduk dan membedakan malam dan siang. Pak Saadillah Mursjid selalu memonitor kondisi kesehatan saya untuk bahan laporan kepada Bapak H .M. Soeharto.
Ternyata setelah dirawat di Tokyo memang ditemukan ada tumor yang disebut “cerebral lymphoma” tersebar di otak. Tim Dokter memutuskan untuk tidak melakukan operasi “biopsy” mengingat usia saya waktu itu sudah menginjak 78 tahun. Karena letak tumor sangat membahayakan bagi Pasien, Tim Dokter minta untuk tetap melanjutkan obat yang diberikan, kemudian dilanjutkan dengan penyinaran yang disebut Radio Therapy di Indonesia Ada dua Dokter yang memeriksa saya, pada saat saya di Tokyo dalam Opininya tanggal 30 April 2004 menyatakan sebagai berikut :

(1) CNS Lymphomas are most likely,      
(2) Malignant glioma is not completely ruled out,
(3) The tumors are multiple, but metastatic tumor is less likely.

Tim Dokter di Jepang memutuskan agar saya kembali pulang untuk dirawat di salah satu Rumah Sakit di Jakarta.
Tanggal 3 Mei 2004 saya dirawat di salah satu Rumah Sakit di Jakarta Selatan, dan kemudian tanggal 9 Mei 2004 pindah ke Rumah Sakit di Jakarta Pusat untuk menjalani Radio Therapy mulai tanggal 10 Mei 2004. Saya seperti bayi yang baru lahir karena semua kebuutuhan harus ada yang melayani. Untunglah isteri saya sangat telaten dan menjadi penyemangat hidup saya. Selain therapi medis saya juga menggunakan ramuannya bu Ning Harmanto yang berupa instant dan Madu .

Tanggal 1 Juni 2004 kembali ke rumah dan semangat hidup saya sangat menurun, sehingga akhirnya tanggal 10 Juni 2004 masuk rumah sakit lagi melanjutkan Radio Therapy sampai yang terakhir tanggal 23 Juni 2004. Sementara itu memori saya perlahan-lahan mulai pulih kembali. Unit Radio Therapy dipimpin Dr Suhartati dengan perawat-perawatnya yang ramah.

Humor melawan Tumor
Selama di rawat di Rumah Sakit, tidak pernah diberitahu bahwa ada tumor di otak saya, karena khawatir kalau saya terpengaruh. Setelah diberitahu oleh Tim Dokter dan istri saya, tidak habis pikir saya, apa sebabnya ada tumor “nyelonong” masuk di otak. Padahal saya selalu aktif, gembira, suka humor, tidak stress dan sering menulis artikel di berbagai mass media. Tahun 2001 ada 6 Artikel, tahun 2002 – 4 Artikel, tahun 2003 – 8 Artikel, tahun 2004 – 8 Artikel dan Januari sampai Februari 2005 – 7 Artikel Keseluruhannya berjumlah 33 Artikel dari tanggal 20 Oktober 2001 sampai dengan 23 Februari 2005 . Dan luar memang saya tampak sehat, tidak sempoyongan jalannya. Karena itu saya tidak bisa menjawab pertan,yaan Prof. Emil Salim sewaktu bertemu saya di salah satu pertemuan di TMII Pertanyaannya adalah mengapa sampai ada tumor di otak saya? Memang bagi sebagian orang mungkin terkecoh melihat penampilan saya yang kelihatannya segar, tegar, penuh humor tapi ternyata ada tumor di otak. Saya sendiri juga tidak tahu kalau ada tumor di otak, karena belakangan baru diberitahu. Coba bayangkan saja tanggal 7 April 2004 saya masih hadir rapat di Badan Pelaksana Pengelolaan dan Pengembangan Taman Mini “Indonesia Indah” (BP3) sebagai Penasehat, kemudian tanggal 10 April 2004 dirawat di RSGS, karena ada dugaan tumor di otak. Sedemikian cepatnya tumor “nyerbu” di otak.

Tim Dokter tempat saya dirawat menyatakan, bahwa kesembuhan saya sungguh suatu mukjizat, menyatakan kesembuhan saya merupakan sesuatu yang luar biasa. Langsung saya timpali, memang saya biasa di luar, sedangkan Tim Dokter Singapura pakai istilah “miracle”. Jarang terjadi, pasien penderita tumor di otak bisa bertahan lama.

Saya menjalani Radioterapi sampai 23 kali. Menurut beberapa orang katanya Radioterapi satu kali saja kulitnya sudah melepuh, sedangkan kulit saya yang kena Radioterapi 23 kali tidak apa-apa. Mungkin kulit saya termasuk “kulit badak” kata seorang sahabat saya. Tim Dokter kemudian memutuskan agar saya menjalani Chemotherapy.

Semula saya memang menolak, kemudian Tim Dokter dan terutama istri saya yang selalu setia mendampingi saya lebih lanjut menasehati bahwa terapi tersebut adalah satu-satunya jalan untuk bertempur melawan Tumor. Memang pengobatan “Chemotherapy” terdengar mengerikan, tapi setelah dijelaskan bahwa “treatment” tersebut cukup dengan minum 3 kapsul Temodal kecil @ 100 mg pagi hari selama lima hari, maka saya pasrah saja. Tapi efek samping Temodal masih menambah derita saya berupa sakit kepala, sulit tidur, sulit buang air besar, mual dan muntah Treatment tersebut berlangsung sejak bulan Agustus 2004 sampai dengan Desember 2004 Walaupun disertai penderitaan, tapi selesai menjalani chemotherapy, wajah saya terutama pipi kiri dan kanan berobah menjadi bundar-bulat seperti moonface” kata orang. Tapi justru pipi itu yang menjadi sasaran ciuman ibu-ibu.

Ternyata memang benar, karena hasil MRI menunjukkan ada kemajuan sebagaimana telah saya jelaskan pada awal tulisan ini. Selanjutnya mulai tanggal 27 Juli 2004 saya diberi ramuan rebusan mahkota dewa, temu mangga, daun dewa dan pegagan serta ditambah ramuan Instan Made 3 dan madu mahkota dewa.

Selanjutnya untuk menjaga kesehatan lever ramuan saya ditambah temulawak.

Saya bersyukur pada Tuhan dengan mengkombinasikan therapi modern dan tradisional, saya memperoleh mukjijat Tuhan, tumor di otak benar-benar bisa dibersihkan. Hingga sekarang saya tetap minum ramuan dari bu Ning untuk menjaga kesehatan.

Hikmah
Apa hikmah yang bisa saya peroleh selama dirawat di Rumah Sakit?

Pertama, saya sungguh bersyukur atas karunia Allah SWT yang terlimpah kepada saya berupa kesembuhan dari sakit. Sejak dimasukkan dalam “terowongan mirip cerobong” alat MRI. Saya selalu berdoa – Ya Allah kalau memang ini akhir jalan hidup yang harus saya jalani, kiranya dapat saya jalani dengan penuh Iman dan Taqwa dan kalau Engkau Ya Allah masih memberikan umur panjang kepadaku, kiranya umur panjang’ tersebut selalu engkau karuniai nikmat iman, nikmat sehat, guna melakukan amal ibadah bagi umat manusia dan bagi kemaslahatan masyarakat.
Kedua, Saya sungguh bersyukur betapa istri saya selalu mendampingi saya sejak dirawat di Jakarta, di Singapura dan di Jepang. Demikian pula istri dan anak-anak selalu memberikan tambahan kekuatan lahir & bathin sambil berdoa dan tidak lupa melaksanakan Sholat Tahajud memohon kesembuhan saya agar diringankan penderitaan saya. Saya sungguh tersentuh ketika pada suatu malam hari saya terbangun melihat istri duduk ditempat tidur sambil menangis seraya berkata agar saya pasrah-saja dan mengikuti nasihat Dokter, kooperatif mengalami pemeriksaan di rumah sakit.
Saya termasuk tidak mudah menangis, tapi malam hari itu saya terharu dan ikut menangis betapa saya m menyulitkan hidup istri dan para sahabat serta anak-anak Ketiga adalah perhatian para teman-teman dan sahabat yang menengok saya Punya sahabat dalarn kehidupan m adalah sangat penting, Kalau kita punya banyak sahabat, maka kita tergolong orang kaya. Sebaliknya orang kaya yang tidak punya sahabat, maka ia tergolong orang miskin. Saya memang sempat stress dan frustasi dengan mengatakan, saya mogok berfikir, mogok bicara, mogok makan, mogok obat dan mogok hidup. Saya malah berkata kepada istri saya untuk mengajak ke akhirat. Para sahabat berkata itu pikiran yang keliru, karena hanya Allah SWT yang Maha Penentu dan bukan kita yang menentukan.

Kesembuhan saya yang.berarti sekaligus lepas dari berbagai penderitaan, tidak tiba-tiba datang begitu saja. Kesembuhan saya merupakan suatu proses yang panjang, penuh diwarnai rasa kecewa, stress, putus asa dan penderitaan Saya pernah bertanya kepada salah seorang guru mengaji apakah pernah merasakan apa yang dimaksud dengan “fidunya hasanah, wa filakhiroti hasanah”? Kalau “hasanah” didunia kita semua mungkin bisa merasakan, tapi kalau “hasanah” di akhirat” apakah Pak Kyai bisa merasakan, wong belum pernah pergi ke akhirat. Pertanyaan tersebut menunjukkan pola pikir saya yang kacau. ”

Salah satu kelakuan saya yang aneh dan mungkin menunjukkan adanya “disorientasi and confusion” adalah ketika dirawat di RS Tokyo mengajak istri saya terjun dari jendela kamar 610 ke bawah. Kemudian sewaktu gosok gigi pagi hari saya mengusulkan untuk menyelenggarakan kumur nasional . Saya juga pernah berkata pada anak saya Dudit “Terima kasih mendampingi Papah & Mamah menyuapi Papah dengan Pisang seperti Monyet, tapi Monyet Mantan Jaksa Agung yang tentunya bukan Monyet sungguhan”. Karena bosan clan kesal saban hari minum tablet melulu, maka suatu saat tablet-tablet tersebut saya bungkus dengan kertas, kemudian saya lempar seperti bola kepada para perawat di RS. Jepang Tablet dan capsul-capsul tersebut ada kalanya tidak saya minum, tapi saya sembunyikan di telinga boneka Jepang yang ada dikamar

Titik Balik
Kunjungan Ibu Herawati Diah dan
ibu Mashud (istri Pak Mashud almarhum mantan Pimpinan LKBN Antara) me.mbangkitkan motivasi saya tagi untuk bertempur melawan tumor di otak, Ibu Diah usianya sudah mendekati sembilah puluh tahun dan masiri aktif berolahraga di PKO Dr Sadoso Senayan. Bangkitlah semangat hidup saya dan yang tadinya pakai kursi roda dan alat “walker” sampai bisa jalan sendiri. Bayangkan penderitaan saya memakai alat yang biasanya dipakai bayi, yaitu pampers atau popok untuk menampung buang air kecil clan besar. Alat tersebut harus diganti berkali-kali:
Walaupun tanggat 23 Juni 2004 saya sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, tapi masih harus menjalani treatment chemotherapy, minum obat Temodal dan pemeriksaan MRI.  Ramuan Mahkota dewa dari bu Ning diiminun dua jam setelah minum obat dokter. Sedangkan untuk memulihkan kemampuan berjalan, tidak pakai kursi atau alat yang disebut “walker” serangkaian treatment dan latihan dilakukan secara mtensif dengan perawatan melalui fisioterapi lima kali di Sasana Husada. Treatment tersebut sangat membantu untuk melenturkan otot-otot dan memulihkan sendi-sendi tulang. Dan akhirnya memang saya tinggalkan kursi roda dan walker, karena tidak saya perlukan lagi.

Setelah hasil MRI terakhir menunjukkan kernajuan dalam arti sehat-sembuh, maka ada benarnya ungkapan yang mengatakan “health is everything, without health everything is nothing” Sehat itu merupakan karunia Allah dan nomor satu dalam kehidupan ini sedangkan kaya itu nomor dua. Pertanyaannya apakah tumor tersebut bisa tumbuh kembali di otak? Jawabannya, tergantung bagaimana “pola hidup” dan “pola makan” kita.

Pola Hidup yang saya sarankan ialah :

1. Rajin dan tekun menjalankan agama yang diperintahkan Allah SWT,

2. Hindari sejauh mungkin stress dalam kehidupan sehari-hari,

3. Cari kesibukan dan hobby yang bermanfaat

4. Menikmati musik di rumah atau dimobil dalam perjalanan,

5. Usahakan untuk berkomunikasi dan silaturahmi dengan para sahabat clan masyarakat luas.

Adapun Pola makanan yang dapat saya sarankan adalah hindari makanan yang ada 3 zat yaitu (1) zat pengawet, (2) zat pewarna dan (3) zat pembangkit rasa.

Urut-urutan makan sebaiknya diutamakan buah dulu, disusul sayuran mentah atau rebusan, kemudian baru nasi dan lauk-pauknya.

Setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu saya sudah mulai mengemudikan mobil sendiri pada pagi hari dari Kemang ke Senayan untuk olahraga di Club PKO Dr.Sadoso. Mengemudikan mobil ternyata juga bisa merupakan latihan memulihkan daya reaksi dan menambah kepercayaan sendiri.

Tulisan ini saya susun dengan membaca hasil Medical Record saya dan catatan istri saya.
Tanpa bahan, data dan catatan istri saya, tidak mungkin saya berhasil menulis pengalaman saya tersebut. Itu berarti saya sempat “tidak ingat” (loss of memory) walaupun tetap sadar dan masih bisa berkomunikasi.
Akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada seluruh tim Dokter di rumah sakit-rumah sakit dimana saya dirawat, serta Tim.

Kepada “Sedulur Cirebonan” saya ucapkan terima kasih atas perhatian, nasihat dan kunjungannya selama saya menderita sakit. Semangat joang yang saya peroleh dari para sahabat “Spes Patriae Ronggolawe” ternyata ada gunanya untuk melawan Tumor.

Secara khusus saya beserta seluruh keluarga menghaturkan rasa terima kasih yang tiada terhingga atas perhatian. Bapak H.M. Soeharto yang memerlukan menengok saya sewaktu di rawat di rumah sakit serta mengunjungi rumah saya di Kemang Timur didampingi Bapak Saadillah Mursjid dan Ibu.

Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi orang lain.

Ketika bu Ning dan rombongan datang berkunjung ke rumah bersama dua wartawan dari majalah Trubus,  saya juga ucapkan banyak terima kasih.Saya menghargai dan mendukung usaha ibu Ning menekuni sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Saya juga mengagumi karya bu Ning. Semoga sukses.

Bapak Ismail Saleh, Mantan Jaksa Agung dan Mentri Kehakiman RI

November 1, 2007 - Posted by | Testimoni Cancer

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: