Herbal Cure Testimonial

Member of Herbal Clinic Ning Harmanto

Menaklukan Kanker Pankreas Dokter

dr. Barmansyah ,  Bandung

Saya seorang dokter yang mestinya tidak bisa mempercayai obat-obat yang belum ada uji klinisnya. Sesuai dengan ilmu kedokteran barat, semua obat yang berbau tradisional tidak gampang diterima. Penyakit yang saya derita adalah kanker pankreas, diabetes, pembengkakan di leher dan luka di kaki, serta ulu hati terasa seperti ditusuk-tusuk jarum. Semua makanan yang saya konsumsi terus dimuntahkan. Akibatnya, berat badan saya menurun drastis. Untungnya jantung dan tekanan darah saya normal. Problem berat ada di pencernaan. Tanggal 18 November 2003 saya mencoba madu mahkota dewa buatan Ibu Ning Harmanto. Dosisnya 2 x 1 sendok makan sehari. Setelah meminumnya, saya merasakan badan lebih terasa enak dan bugar. Selanjutnya, tanggal 21 November 2003 saya mencoba paket kanker yang direbus. Sebelum saya minum airnya saya gunakan untuk penguapan wajah sambil saya hirup uapnya. Ternyata hasilnya sungguh menggembirakan. Saya juga mengikuti anjuran dan pantangan yang sudah ditetapkan.
Tanggal 1 Desember 2003, saya telepon ke tim konsultannya Ibu Ning. Reaksi ramuannya sangat baik. Banyak hal positif dan tak terduga yang saya rasakan. Sakit di pankreas hampir tak terasa lagi. Luka lama di bagian kaki yang tak kunjung sembuh kini sudah membaik. Leher saya yang tadinya begkak juga sudah kempis. Bahkan, pendengaran dan penglihatan yang tadinya terganggu ternyata membaik dan kembali normal. Memang belum semua keluhan saya hilang tuntas. Diare bisa sewaktu-wantu muncul, jika makanan yang saya konsumsi tidak selektif.
Meskipun demikian, sebagai seorang dokter saya sungguh kagum dengan khasiat ramuan mahkota.

November 2, 2007 Posted by | Testimoni Cancer | Leave a comment

Orang Amerika Minum Jamu

Ny. Silvie di San Fransisco, Amerika Serikat.
Saya orang Amerika asli tapi bersuamikan orang Indonesia. Kami berdua menjalani bisnis keliling dunia karena saya senang mempelajari sesuatu, saya paham dengan bahasa Indonesia, juga beberapa bahasa lain dari negara yang sering kami kunjungi. Melalui internet, kami bisa mendapatkan banyak informasi tentang berbagai hal, termasuk ramuan mahkota dewa dari Ny. Ning Harmanto.

Secara turun temurun saya tidak pernah percaya pada hal-hal yang berbau tradisional. Kami orang Amerika, tidak bisa minum jamu. Jika suami sering meminumnya, saya sering menertawakannya. Saya bilang kalau suami saya orang kuno. Namun, bagaimanapun juga saya menghargai kebiasaanya itu. Suami saya juga tidak memaksa saya harus mengikuti kebiasaannya.

Suatu hari saya merasakan ada yang tidak beres dengan payudara saya. Saya mencoba meraba sendiri dan agak panik ketika merasakan ada benjolan di bawah ketiak. Karena tidak sakit saya diamkan saja dan saya juga tidak mengatakan apapun kepada suami. Bulan demi bulan berlalu tiba-tiba tangan kanan saya menjadi sulit diangkat. Apa yang terjadi? Akhirnya, saya harus membuka rahasia ini kepada suami.

”What’s wrong dear? Tell me,” suami saya panik karena saya menahan rasa sakit.
“I don’t know.” Saya hanya bisa menangis dalam pelukannya. Setelah tenang saya akhirnya bercerita kepada suami.
Dia membujuk agar saya tenang dan mengajak untuk konsultasi ke dokter.
“Menurut hasil pemeriksaan kami, ada tumor di payudara ibu,” kata dokter memastikan.

”Apa yang harus kami lakukkan selain operasi?”

”Tidak ada. Saya anjurkan untuk segera diangkat mumpung masih dini.”

”Kami akan pikir-pikir dulu dokter. Terus terang saya belum siap mental.”

”Baiklah, saya beri waktu dua minggu ya.
Lebih dari itu saya tidak berani karena risiko akan lebih berat.”
Setelah sampai di rumah saya menangis, tetapi tiba-tiba suami saya mengusulkan sesuatu, yakni melakukan sesuatu yang selama ini saya indari. Minum jamu!

”Dear, cobalah, ramuan ini bukan seperti jamu rebusan yang pahit. Hanya seperti minum teh. Apa salahnya kamu mencobanya sebelum saat operasi tiba. Siapa tahu tidak harus dioperasi tetapi cukup dengan minum jamu mahkota dewa.”

”Apa itu mahkota dewa?”

Dari buku Mahkota Dewa: Obat Pusaka para Dewa dan berbagai majalah serta internet, suami saya berceritera panjang lebar dan meyakinkannya.
Selama ini suami saya sudah mencoba sendiri dengan membelinya di GORO (saat ini sduah pindah ke ITC Cempaka Mas). Dengan ragu saya mencoba dulu teh racik made yang biasa diminum suami. Benar saja, tidak pahit! Selanjutnya saya bersama suami datang ke GORO Kelapa Gading dan mengambil sendiri teh mahkota dewa, temu putih, dan umbi daun dewa. Dengan tekun saya meminum ramuannya dan mengikuti berbagai pantangannya. Dua minggu kemudian, saat akan kembali ke dokter untuk persiapan operasi tangan yang tadinya sulit di angkat kini tak terasa sakit lagi.
”Wonderful, ini ajaib”, kata suami saya.
”Nah, sekarang kamu baru percaya obat tradisional Indonesia benar-benar berkhasiat.”
“Yes, it is wonderful. I can not believe it.” Thanks God..

November 2, 2007 Posted by | Testimoni Cancer | Leave a comment

Diabetes Keturunan

Ny. Nurwan Burhan - Kompleks Angkatan Udara, Tanjung Pinang Riau
Saya ibu rumah tangga biasa, punya anak tiga, selalu sibuk dengan urusan pekerjaan rumah dari mulai ngurus anak, belanja, memasak, bersih-bersih rumah dan juga mempersiapkan kebutuhan suami. Kegiatan yang saya lakukan tidak terlalu berat karena ada pembantu sehingga sayapun punya banyak waktu santai. Di saat tak ada pekerjaan saya biasanya nonton TV sambil ngemil kue-kue yang manis. Tanpa saya sadari pula saya juga senang makan hingga saya kelebihan berat badan. Anak-anak juga mulai cerewet berkomentar:

”Mama rasanya tambah gembrot aja sih, hati-hati lho gemuk itu banyak penyakit”.

”Diit sedikit sih ma, ngaca tuh mama jadi seperti bola”.

Suami saya malah tidak pernah mempermasalahkan kalau saya gemuk.

”Sudahlah jangan ngledekin mama terus. Biar gemuk tapi tetap cantik bukan?. Meski suami tetap sayang namun lama-lama saya risih juga diledekin anak-anak. Hari demi hari saya merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh saya.
Tangan dan kaki sering kram dan kesemutan. Rasanya pingin makan terus karena lapar. Selain itu saya jadi sering kebelakang terutama bila malam hari. Selain itu saya mudah pusing dan tegang serta perut sering terasa kembung dan perih karena gangguan maag. Akhirnya saya memutuskan untuk periksa ke dokter. Sama dokter disarankan untuk di cek gula darahnya. Ternyata benar hasil laboratorium menunjukkan bahwa kadar gula darah saya cukup tinggi. Saya diberi resep sama dokter untuk dibeli di apotik namun tidak ditebus. Saya paling malas kalau disuruh minum obat karena saya tahu dari banyak temen bahwa obat itu racun. Daripada minum obat lebih baik minum jamu. Beli saja ke Jawa, kata teman-teman.
Kebetulan saya punya saudara di Jakarta namanya Susi. Lewat telpon dan sms saya minta dibelikan jamu untuk diabet. Saya percaya saja sama Susi.

”Lho minta dibelikan jamu Diabet mereknya apa tante?”

”Tak tahulah aku, kata kawan-kawan di Jawa banyak dijual jamu untuk Diabet. Terserah Susi saja mau dibelikan yang mana.”

”Okey kalau begitu begini saja tante. Kebetulan Susi bekerja di PT.Mahkota Dewa Indonesia. Di perusahaan ini dijual ramuan khusus untuk Diabet. Gimana kalau tante pakai ini saja ya.”

”Eh tapi tante dengar, yang bagus untuk mengobati diabet itu Jamu dari Jawa.”

”Iya ini juga jamu dari Jawa. Tante beli paket Mahkota Dewa untuk pengobatan Diabet sekaligus juga bisa mengobati sakit yang lain atau nurunin berat badan.

”Okey terserah Susi sajalah”.

Akhirnya Susi memberikan ramuan Paket Mahkota Dewa terdiri dari TR. Made, kapsul mengkudu, kapsul umbi daun dewa,Kapsul temu mangga dan TR.daun salam. Karena ingin sembuh maka dengan tekun saya mengikuti semua petunjuk yang dianjurkan dalam panduan paket. Hari demi hari pelan tapi pasti badan merasa enak, kaki dan tangan tidak kesemutan lagi. Perut saya yang sering kembung kini tidak lagi ada keluhan.
Juga pusing-pusing di kepala hampir tak pernah terasa lagi. Dalam waktu sebulan, hampir semua keluhan saya hilang tak berbekas. kemudian saya kirim sms lagi mengabarkan gula darah turun dan normal . Saya sekarang minum ramuannya hanya sehari sekali saja untuk berjaga-jaga jangan sampai penyakit kambuh lagi. Saya bersyukur pada Allah ternyata teman-teman saya benar. Di Jawa ada obat yang ampuh untuk mengobati macam-macam penyakit. Terima kasih ya Allah.

November 2, 2007 Posted by | Testimoni Diabetes | Leave a comment

Tiada Hari Tanpa Minum Obat

Ny. Heriaty , Jl. Raya Pandeglang no 2SERANG.

Bertahun-tahun saya menderita diabet. Tiada hari tanpa makan obat. Meski saya termasuk orang yang patuh pada anjuran dokter dan mau minum obat secara teratur namun pada kenyataannya gula darah tak pernah mencapai angka normal. Hasil laboratorium gula darah puasa 120 dan 2 jam PP 275. Kalau saya lupa tidak minum obat lebih parah lagi.

Puji Tuhan saya tahu informasi tentang ramuan bu Ning yang dijual di Toko Buana Minggu. Menurut informasi,  bu Ning Praktek juga di Buana Minggu setiap hari Jumat dari jam 10.00 sampai jam 14.00. Untuk menjumpai ibu Ning memang tidak mudah karena pasien bu Ning ribuan. Syukurlah ketika saya ke Buana Minggu kebetulan bisa bertemu langsung dan saya berkeyakinan bu Ning bisa menolong saya seperti halnya pasien-pasiennya yang telah banyak disembuhkan melalui ramuan yang dibuatnya.

Bu Ning mau mendengarkan semua keluhan dengan penuh kesabaran. Lalu diberikan resep  untuk diabet, tekanan darah saya yang selalu tinggi dan keluhan saya gangguan saluran kencing. Setiap kali mau buang air kecil dan sesudahnya saya amat tersiksa dengan sakit yang terus mendera. Saya diberi ramuan yang harus direbus Teh Racik Made, Teh Akar alang-alang, Teh Daun salam, Teh Daun pegagan dan kapsul Umbi daun Dewa. Secara bertahap saya dianjurkan merebus ramuannya dengan dosis yang ringan dan bila tak ada reaksi negatif ramuan terus ditingkatkan hingga masing-masing mencapai  satu sendok makan. Karena ingin cepat sembuh saya langsung saja gunakan ramuannya masing2 satu sendok makan.
Puji syukur pada Tuhan setelah lima hari mengkonsumsi ramuan bu Ning ternyata berangsur-angsur semua keluhan saya hilang. Saya hampir tak percaya memperoleh anugerah kesembuhan yang demikian cepat ini. Yang lebih menggembirakan lagi secara bertahap obat dokter untuk sakit darah tinggi dan gula darah saya kurangi dan setelah dua minggu saya cek tekanan darah dan gula darah normal akhirnya saya putuskan untuk tidak minum obat modern dan ternyata tetap normal. Sungguh sulit dipercaya, obat-obatan yang selama ini saya minum dan harganya cukup mahal tak bisa mengatasi keluhan saya tapi ramuan yang sederhana dan harganya murah ini malah bisa menuntaskan penyakit saya. Benar-benar ajaib. Indonesia punya potensi luar biasa untuk pengobatan. Yang lebih menggembirakan saya, ternyata bedak dingin Mahkota Dewa yang murah meriah malah bisa menyembuhkan jerawat anak saya yang selama ini tak pernah bisa sembuh walau saya sudah mengajaknya berobat ke dokter ahli kulit. Selama ini obat dokter  yang dibeli juga cukup mahal namun hampir tak terasa manfaatnya. Jerawat bukannya sembuh malah bertambah banyak. Kini hanya dengan Rp.7.500 harga bedak Made justru membawa kesembuhan.Saya bersujud syukur pada Tuhan atas anugerah kesehatan yang luar biasa ini. Ketika bertemu bu Ning kembali di Klinik Buana Minggu saya ajak keluarga saya untuk ikut berobat. Juga banyak teman saya beritahukan kabar yang menggembirakan ini. Terima kasih ya Allah, terima kasih bu Ning. Semoga Tuhan senantiasa memberikan jalan yang terbaik untuk usaha bu Ning yang mulia ini.

November 2, 2007 Posted by | Testimoni Diabetes | Leave a comment

Berhenti Suntik Insulin

Betapa membosankannya bila tiap hari mau makan harus suntik dulu. Namun, apa boleh buat kalau saya tidak mau melakukan itu maka gula darah akan melejit naik. Saya juga tidak ingin buta akibat dari tingginya kadar gula darah. Memang saya mempunyai warisan Diabet dari orang tua, maka ketika pola makan saya tidak benar terjadilah mala petaka badan saya tidak bertenaga,mata kabur dan benar-benar loyo seperti kakek-kakek. Saya langsung dilarikan ke Rumah Sakit dan ketika dicek gula darah saya sampai 600. Mau tidak mau suka tidak suka terpaksa saya harus dirawat di rumah sakit. Begitu banyak  macam obat  yang harus saya konsumsi namun hasilnya belum nampak nyata. Akhirnya dokter memutuskan saya harus suntik insulin setiap mau makan. Dua minggu kemudian saya diperboleh kan pulang namun harus terus menerus suntik insulin.
Seminggu dua minggu saya masih berupaya patuh namun lama kelamaan saya bosan juga. Syukur pada Tuhan saya ke toko buku Gramedia menemukan bukunya bu Ning “Menumpas Diabet Melitus bersama Mahkota Dewa”. Saya membaca banyak kesaksian yang luar biasa, lalu saya mendatangi kliniknya dan diberi ramuan paket diabet dalam bentuk kapsul semua supaya praktis.  Saya dipesan agar mau mengatur pola makan dan juga mau berolah raga.  Sesampainya di rumah saya putuskan menghentikan suntikan insulin dan mengganti dengan obat herbal dari bu Ning. Meski disarankan saya mengurangi suntikan insulin secara bertahap tapi saya nekad saja sambil berdoa memohon pada Tuhan sertaupaya diet dan olah raga. Puji syukur pada Tuhan saya cek gula darah ternyata bisa normal meskipun saya tidak suntik insulin. Saya semakin yakin bahwa ini jalan Tuhan yang terbaik. Berbulan-bulan setelahnya, gula darah saya tetap terkontrol. Hingga kini saya hanya minum ramuan untuk pencegahan sehari sekali dan sambil menjaga pola makan serta rutin berolah raga. Puji syukur gula darah saya tetap terkontrol. Terima kasih Tuhan.

November 2, 2007 Posted by | Testimoni Diabetes | Leave a comment

Diabet Dokter hilang tak berbekas

Kesaksian Dr. Haririh Widji Utami
Jl. H. Naman Raya no.80 Rt002Rw 02
Kel Pondok Kelapa
Saya pensiunan dokter yang terus ingin mengabdikan diri untuk terus praktek sebagai seorang dokter.

Sudah beberap
a tahun terakhir ini saya mulai mempelajari khasiat tanaman obat yang ada di indonesia. Saya juga mulai mengikuti kursus di Karyasari dan kemudian tergabung di Asosiasi Pengembang Tanaman Obat Indonesia (APTOI). Setiap kali saya menghadiri pertemuan dari organisasi APTOI selalu saja ada hal-hal baru yang bisa diketahui dari sharing antar anggota.
Khusus untuk tanaman Mahkota Dewa sejak awal saya tidak berani mencoba karena mendengar informasi itu tanaman beracun dan hanya cocok untuk kanker. Saya pengidap Diabet sejak dua puluh tahun yang lalu. Karena pola makan saya yang susah diatur maka meski minum obat medis, kadar gula darah sering turun naik. Beberapa herbal juga sudah saya coba untuk mengatasi gangguan Diabet saya namun belum ada yang pas. Ketika suatu kali saya semobil dengan bu Ning saya ditanya:

”Kadar guladarah  dokter sudah normal atau belum sih?”

”Ya belum karena saya bandel”.

”Lho dokter sudah coba buah Mahkota Dewa apa belum sih?”, tanya saya ragu

”Belum tuh, saya takut katanya beracun”.

“Lho yang beracun itu Cuma bijinya dok. Kenapa anda tidak mencoba untuk atasi gula darah?”

“Jadi bener-bener nggak bahaya kalau diminum rebusan buahnya?’

“Coba saja, kalau sampai ada apa-apa saya yang tanggung”. Kata bu Ning meyakinkan.

Sejak saat itu saya mencoba menggunakan ramuan Mahkota Dewa saya gabung dengan daun salam. Setelah saya cek laboratorium, memang benar, gula darah saya turun.

Setelah merasakan khasiat tanaman Mahkota Dewa akhirnya saya memutuskan untuk menjadi mitra Usaha bu Ning Harmanto.Saya dibantu adik dan anak saya yang dengan gencar dimanapun mereka berada selalu mempromosikan ramuan Mahkota Dewa. Tidak lama kemudian ketika ada pertemuan APTOI di kebun Sringanis, bu Ning menawarkan kerja sama agar saya mau jadi Tim Medis untuk menangani klinik tradisional Mahkota Dewa. Mempertimbangkan bahwa bu Ning memang sangat gigih berjuang untuk mengembangkan ramuan tradisional dan saya tahu sudah banyak pasiennya yang sembuh maka dengan senang hati saya menerima tawarannya. Saya tertarik dengan cara kerja kliniknya bu Ning. Semua serba di atur seperti halnya tempat praktek dokter. DI klinik ini terjadi Subsidi silang. Semua pasien diberi layanan konsultasi gratis dan bagi yang mampu dipersilahkan membayar ramuan sesuai harga yang sudah ditetapkan namun bagi yang tidak mampu membayar semampunya. Apabila ada pasien yang ingin mengucapkan terima kasih karena puas dengan layanan atau bersyukur atas kesembuhannya maka dipersilahkan mengisi kotak amal saja yang secara periodik akan diserahkan ke masjid, gereja, panti asuhan atau siapapun yang membutuhkan.
 
Hari demji hari saya terus bekerja di klinik Mahkota Dewa dengan hati senang karena suasananya penuh kekeluargaan. Ya kami semua berjumlah 12 orang sudah seperti satu keluarga besar. Kalau awalnya layanan klinik hanya sampai jam 16.00 kini diperpanjang sampai jam 18.00. Bahkan ada juga yang jaga sampai jam 20.00. Sering kali kalau ada salah satu karyawan pulang kampung atau habis dari luar kota mereka pasti bawa oleh-oleh.  

Merasa aman gula darah saya bisa diturunkan dengan mudah saya  jadi agak rakus dan selalu ikut makan oleh-oleh yang secara bergantian di bawa oleh karyawan klinik.. Saya juga mulai tergiur untuk makan apapun yang saya suka. Makan nasi den
gan lauk apa saja yang saya suka. Makan kue yang manis-manis hayo saja. Pokoknya saya tidak mau pantang apapun. Beberapa kali diingatkan oleh teman dan anak sendiri saya jawab dengan tenang.
”Lho “kan ada Mahkota Dewa, tenang saja, nanti juga bisa cepat turun”.

Saya  sebenarnya juga agak penasaran dengan ramuan herbal Ashitaba atau teh Anjelica yang konon katanya sangat mudah menurunkan kadar gula darah namun saya masih ragu mencobanya. Dari internet
www.Ashitaba.com diinformasikan khasiat tanaman Anjelica atau Ashitaba untuk menanggulangi diabet, kanker, pertumbuhan syaraf, glukoma, peredaran darah dan lain sebagainya. Menurut informasi tanaman ini berasal dari Jepang dan di sebuah pulau yang penduduknya makan herbal ini yang dimasak jagi sayuran ternyata mereka sehat-sehat dan panjang umurnya. Bu Ning sudah ceritera bahwa perkawinan herbal Indonsia Mahkota Dewa dengan herbal Jepang Ashitaba akan sangat mujarab mengatasi kanker dan Diabet.
Suatu hari ketika cek gula darah saya amat terkejut karena selama ini saya tidak merasakan gejala apapun namun ternyata gula darah saya menjadi sangat tinggi yakni 560. Begitu mengetahui kadar gula darah saya cukup tinggi saya jadi panik lalu keluar keringat dingin dan merasa seperti melayang.

Bu Ning setengah marah mengetahui gula darah saya begitu tinggi.

“Aduh dokter mengapa bisa begini. Waduh Dokter, kalau pasien tahu kita bisa malu lho. Kita sering  mengobati pasien Diabet sampai bisa sembuh benar, eh koq kita sendiri sakit. Sekarang dokter harus nurut ya kita obati.” Bu Ning lalu minta dibuatkan Teh Angelica atau Ashitaba untuk bisa segera diminum dan juga saya dianjurkan minum kapsul Mahkota Dewa, Daun salam, kapsul Pegagan dan kapsul Umbi Daun Dewa.
Kini saya mau dengan rutin mengkonsumsi  Paket Diabet Mahkota Dewa. Alhamdulilah kini saya hampir tak pernah minum obat medis kecuali habis makan banyak atau saat menghadiri pesta. Belum sebulan saya konsumsi ramuan Paket Diabetes ditambah kapsul anjelica gula darah sewaktu yang semula 538 kini turun menjadi 174. Bahagianya hati ini mengetahui kenyataan yang menggembirakan. Saya benar-benar ingin sembuh total seperti halnya pasien Diabet di klinik Mahkota Dewa yang sudah banyak berhasil dan sembuh total.

November 2, 2007 Posted by | Testimoni Diabetes | Leave a comment

Diabetku normal hanya dengan Herbal

NY.JOKO WARDOYO - JAKARTA.
Sejak tahun 1988 saya melakukkan General Check up di Rumah sakit ternyata saya mengidap penyakit kencing manis. Gula darah Puasa 360, 2 jam setelah makan 380. Dokter memberikan resep obat Diamicron 3 x sehari dan gula darah perlahan-lahan turun.

Karena penyakit inilah maka setiap bulan saya cek gula darah.Saya merasakan memang ada kemajuan tapi terasa lambat sekali dan bertahun-tahun saya terus menerus minum diamicron. Sepuluh tahun kemudian obat yang saya minum diganti dengan daonil 2 x sehari, pada saat itu gula darah saya puasa 180, 2 jam PP 200. Selain minum obat daonil saya juga benar-benar menjaga makanan saya. Semua makanan manis saya hindari, juga apabila pergi kondangan saya juga pilih-pilih makanan.
Sebulan kemudian check up lagi ternyata gula darah puasa 108 dan 2 jam PP 120. Dokter mengatakan ini bagus sekali dan sudah normal.
Bulan Januari 2003 saya membaca koran BUANA MINGGU yang menjadi koran langganan saya selama bertahun-tahun. Kebetulan di koran ini ada rubrik khusus tentang ramuan Mahkota Dewa yang ditulis ibu Ning Harmanto dan selalu muncul di halaman belakang. Dari tulisan-tulisan itu banyak dikisahkan pasien-pasien bu Ning yang sudah sembuh. Saya sangat tertarik terutama tulisan yang mengisahkan keberhasilan bapak Suprapto dari Jawa Tengah yang sudah sembuh total dari sakit kencing manis. Membaca berita ini saya terus berpikir, kalau yang tradisional bisa menyembuhkan penyakit diabet kenapa tidak saya coba. Memang sih minum obat dokter gula darah saya bisa terkontrol tapi kalau terus menerus dan berpuluh tahun pasti ada efek sampingnya. Beberapa teman saya yang mempunyai sakit yang sama akhirnya harus cuci darah karena ginjalnya rusak. Kerusakan di ginjal diduga kuat karena minum obat kimia terus menerus.     
Tanggal 31 Maret 2003 saya datang ke klinik Mahkota Dewa yang di Jln. Soka BB 16, Nyiur Melambai II, Jakarta Utara. Saya diberi paket ramuan MADE dan dipesan agar obat dokter bisa tahap demi tahap dikurangi. Saya iyakan saja namun karena takut gula darah saya naik, obat dokter daonil tetap saya minum 2 x sehari. Jadi saya minum obat dokter dengan dosis seperti biasa ditambah ramuan dari ibu Ning. Pada awalnya badan saya terasa makin segar tapi lama kelamaan saya merasa ada yang aneh di tubuh saya.
Oleh laboratorium Mahakam, dinyatakan gula saya terlalu rendah, menurut chek gula kalau puasa 62, setelah makan 116. Saya masih diam, tetapi berpikir mengapa gula saya rendah ?
September 2003 saya check lagi ke laboratorium ternyata gula saya lebih rendah lagi yaitu puasa 54, setelah makan (dua jam ) 60.
Disini saya dimarah marahi dokter dan ditanyai minum obat apa ? Saya tidak menjawab tapi berpikir keras mencari tahu apa sebabnya. Setelah ke dokter, saya dilarang minum daonil, maka berhentilah saya minum daonil, tetapi mahkota dewanya terus 3 x sehari.
Desember 2003 saya check lagi ke laboratorium hasilnya puasa 101, setelah makan dua jam 120.
Januari 2004 saya check lagi ke laboratorium, waktu puasa 90 setelah makan dua jam 143.
Setelah stabil maka saya disuruh minum teh manis misalnya diberi gula pasir, tetapi bukan teh manis yang saya minum, saya makan es cream walls dua hari. Setelah itu saya perikasa di laboratorium hasilnya puasa 102, setelah makan dua jam 115 ( bulan Februari )

April 2004 saya check ke laboratorium, hasilnya puasa 91 setelah makan 2 jam 113. Konsultan mahkota dewa menganjurkan saya untuk tidak minum obat gula lagi karena gula saya sudah stabil tetapi untuk menjaga kesehatan, saya diberi obat (vitamin ) sebanyak 4 macam untuk 2 x sehari. Demikian penuturan saya mengenai penyakit diabetes yang saya derita hingga saya sembuh. Saya mengucapkan banyak terimakasih pada Ibu Ning Harmanto dan  ibu-ibu konsultan mahkota dewa yang lain karena saya sudah sembuh dari kencing manis.
Dan sekarang umur saya sudah 71 th, Alhamdullilah kondisi badan saya kini masih fit untuk umur 71 th.
Dengan senang hati saya mempromosikan ramuan Mahkota Dewa ke[ada teman, sahabat dan handai taulan. Ternyata benar alam Indonesia mempunyai potensi obat yang luar biasa. Tidak kalah dibandingkan obat dari mancanegara.  
DIABETKU MENGHILANG TAK BERKESAN

November 2, 2007 Posted by | Testimoni Diabetes | Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.